Tuesday, March 8, 2011

Berbalaskah Cintaku?

BERBALASKAH CINTAKU?


"Kita selalu mengucapkan cinta kepada ALLAH. Tetapi pernah tak kita terfikir, adakah ALLAH juga cinta kepada kita?"kata-kata suami di suatu petang, cukup menyentak jiwa ini.

Kuat!

Saya terdiam tidak membalas. Merenung-renung kebenaran dari bicaranya. Bukan tidak pernah terfikir, cuma selalu terlupa.

Berapa ramai manusia yang mengharap dirinya jatuh cinta, lalu setelah merasakan dirinya dicintai, membalas pula huluran kasih itu dengan cinta yang serupa. Maka jadilah mereka dua insan bercinta, saling kasih mengasihi.

Alangkah indahnya kala cinta bersemi, lebih indah bila kasih yang diberi berbalas cinta sejati.

Sebaliknya, bila cinta tidak dihirau, kasih dipandang sepi, bagai bertepuk sebelah tangan, kesakitan yang menjalar dari itu umpama menghulur sebungkus hadiah, tetapi akhirnya ia ‘mendarat’ di tempat sampah.

Sungguh pedih dan menyakitkan perasaan!


CINTA ALLAH
Namun, itu adalah tamsilan cinta sesama manusia. Tentu sahaja interpretasinya tidak sama dan sangat jauh berbeza dengan cinta kepada ALLAH Yang Maha Mencipta.

Kerana, cinta ILAHI bukan sebagaimana cinta Romeo terhadap Juliet, yang berpenghujung dengan kematiannya.

Cinta ILAHI bukan laksana cinta penuh rindu dendam dari Qais kepada Laila, sehingga hidupnya berpanjangan derita siang dan malam.

Juga, cinta ILAHI bukan umpama luahan cinta seorang jejaka kepada gadis yang diidam-idamkannya, sehingga ketika penolakan yang diterima, maka mengalirlah airmata dan hancurlah jiwa.

Sesungguhnya ALLAH SWT itu Maha Kaya. Maha suci DIA dari segala kekurangan cinta yang ada pada cinta manusia.

Andai cinta manusia banyak berakhir dengan kehancuran, rindu sesama mereka berisi kedukaan dan penderitaan, kasih yang diharapkan hanya berbalas curahan airmata dan menghancurkan jiwa, maka cinta ALLAH adalah sebalik dari semua itu.

Cinta ALLAH pasti berakhir dengan kebahagiaan.

Menyintai dan merindui-NYA berisi ketenangan dan kedamaian.

Rasa kasih kepada-NYA, walau masih mengalirkan airmata tetapi ia menghidupkan jiwa seumpama air hujan menyirami pepohonan.

Akan tetapi, berapa ramaikah yang mengambil berat akan ungkapan cinta kepada-NYA beriring rasa khuatir dan bimbang, akan berbalaskah lontaran cinta mereka kepada-NYA?


MAKNA KEHIDUPAN
Pada saya, jawapan kepada persoalan ini banyak dipengaruhi oleh bagaimana mereka menemukan hidup dan memandang nilai kehidupan.

Kita selalu mendengar beragam pendapat masyarakat ketika mereka ditanya apakah makna kehidupan di dunia ini. Sebahagian mengatakan kehidupan dunia ini ibarat pentas teater.

Pada satu-satu persembahan, beragam karektor dan watak akan dimainkan, ada peranan protagonis juga peranan antagonis. Ada orang yang kaya, ada pula orang yang miskin.

Di satu ketika lainnya, muncul peranan imam yang alim dan taat, dihangatkan pula dengan watak pembangkang, pemerintah yang zalim dan menindas rakyat. Lebih meriah setelah itu, penampilan watak penyelamat yang dijulang sebagai wira yang hebat dan lain-lain lagi. Ringkasnya, watak-watak yang diketengahkan banyak menyerupai kehidupan realiti.

Namun, apa yang ditampilkan diatas pentas teater itu hanya pura-pura, bukan satu kebenaran. Kalau ada yang kaya, dia bukan kaya sebenarnya, pun kalau ada yang miskin, kemiskinannya juga satu kepalsuan.

Justeru, bayangkan bagaimana andai kehidupan ini disamakan dengan watak para pelakon di pentas teater. Sudah pasti, kita akan mendapati orang yang taat kepada ALLAH, tapi taatnya hanya satu penyamaran. Taatnya hanya bila ada keperluan, taatnya hanya disaat ditimpa kemalangan, taatnya hanya kerana inginkan sanjungan.

Alangkah meruginya orang yang berpura-pura taat ini kerana ALLAH SWT hanya akan menerima ketaatan yang didasari keikhlasan dan ketulusan.

Tidak kurang juga, sebahagian yang lain mengatasnamakan kehidupan ini seumpama sebuah perjuangan, yang lazimnya diisi dengan sesuatu bersifat 'peperangan dan pertempuran’, sehingga mereka yang memaknai hidupnya sebegini, sering terasak dengan pengisian makna yang mereka letakkan sendiri.

Kehidupannya selalu diwarnai dengan ketidaktenangan, mereka seakan selalu merasa berhadapan dengan persaingan. Akibatnya, tidak kurang individu yang hidupnya jauh dari kedamaian, jauh dari ketenangan, juga jauh dari rasa persahabatan.


MEMAKNAI KEHIDUPAN
Memang benar, setiap orang berhak memiliki pandangan yang berbeza tentang bagaimana mereka mahu memaknakan kehidupan ini, namun andai direnung secara mendalam apalah yang ada pada sebuah panggung teater, yang wataknya hanya satu penyamaran. Apalah pula yang dapat dibanggakan pada sebuah perjuangan, andai ia sekadar pertempuran tanpa berpandu ajaran TUHAN.

Kerana itu, sudut pandang yang benar tentang kehidupan dan menepati kehendak ar Rahman adalah, kehidupan ini tidak lain hanyalah satu pengabdian kepada-NYA lantaran seorang ‘hamba’ sangat menyedari kedudukannya di sisi ‘TUAN’nya yang dipandang terhormat lagi mulia.

Firman ALLAH SWT :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Maksudnya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” ( Surah az Zaariyat ayat 56 )

Keadaan inilah yang memudahkannya untuk menerima sebarang pertanggungjawaban baik ia berupa perintah yang wajib dilaksanakan, mahupun larangan yang mesti dijauhkan.

Dia tidak terbeban ketika ALLAH SWT mewajibkan ke atas hamba-hambaNYA untuk melaksankan syari’at, bahkan ketika ALLAH menyuruhnya untuk mengorbankan harta, menahan lapar dan dahaga dan seumpamanya, maka ia dengan rela dan ikhlas melakukan itu semua tanpa keluh kesah dan rasa terdera.

Begitu juga, ketika mana ALLAH SWT memerintahkan agar menjauhkan diri dari larangan-NYA, sungguhpun perkara tersebut sangat diinginkan oleh nafsunya yang membara, ia berusaha untuk menjauhkan diri bahkan menghampirinya juga tidak sesekali.


‘UJIAN’ CINTA
Justeru itu, ALLAH SWT mewar-warkan di dalam firman-NYA:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Maksudnya :"Katakanlah: ""Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, nescaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Dan ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." ( Surah ali Imran ayat 31 )

Di dalam hal ini, Imam Hassan al Basri rahimahullah pernah mengungkapkan :

“Suatu kaum mengaku cinta kepada ALLAH, lalu ALLAH menguji mereka dengan ayat ini.”
(Tafsir Ibnu Kathir 2/229 )

Hakikatnya, ‘ujian cinta’ yang ALLAH letakkan pada ayat di atas sangat tepat sebagai penentu dan kayu ukur kepada kebenaran dakwaan yang dinyatakan. Berapa ramai dari manusia hari ini yang mengaku beriman dan menuturkan cinta kepada TUHAN, tetapi masih tega melanggar perintah dan larangan-NYA.

Ditambah pula kesibukan mengejar pangkat dan harta sehingga doa dan munajat kepada Yang Esa semakin sirna. Kebohongan demi kebohongan dilakukan demi meraih tumpuan dan sokongan manusia. Tidak kurang juga mereka yang berbuat kerosakan atas nama agama, memutuskan silaturrahmi, bersifat perkauman dan lebih malang, ada yang mendahulukan kehendak nafsu sendiri dari mengutamakan kehendak ILAHI.

Inikah yang digembar gemburkan sebagai menyintai-NYA?


BERBALASKAH CINTAKU?
Lantaran itu, saban kali mengungkapkan cinta pada Yang Maha Esa, rasa malu akan muncul lebih dulu. Disusuli rasa rindu berbelai tangisan hiba.

Berbalaskah cintaku?

Terkenang beberapa untaian ayat-ayat cinta-NYA, juga ingatan daripada junjungan Rasul yang mulia, sebagai panduan dan pedoman bagi menjawab persoalan yang menerpa.

Firman ALLAH SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Maksudnya : “Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak ALLAH akan mendatangkan suatu kaum yang ALLAH mencintai mereka dan mereka pun mencintai-NYA, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan ALLAH, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia ALLAH, diberikan-NYA kepada siapa yang dikehendaki-NYA, dan ALLAH Maha Luas (pemberian-NYA) lagi Maha Mengetahui.” ( Surah al Maidah ayat 54 )

Dan firman-NYA lagi :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Maksudnya : “Kerana itu, ingatlah kamu kepada-KU nescaya AKU ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-KU, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-KU.” ( Surah al Baqarah ayat 151 )

Juga sabda baginda SAW yang bermaksud :

“Sesiapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi ALLAH hendaklah dia mengamati kedudukan ALLAH dalam dirinya. Sesungguhnya ALLAH menempatkan hamba-NYA dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan ALLAH pada dirinya“. ( Hadis riwayat al Hakim )

Akhirnya, mari kita sama-sama berdoa agar lafaz cinta yang dizikirkan, bukan sekadar manis di bibir sahaja. Bahkan, cinta itu kita buktikan melalui perakuan, perkataan dan perbuatan yang mendekat kita kepada DIA yang kita cinta :

“Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon kepada-MU; perbuatan yang memiliki banyak kebaikan, dan meninggalkan berbagai macam kemungkaran, mencintai orang-orang miskin dan ENGKAU mengampuni serta menyayangiku. Dan jika ENGKAU menimpakan fitnah (malapetaka) bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terimbas fitnah itu. Dan aku memohon kepada-MU rasa kecintaan pada-MU, dan cinta pada orang-orang yang mencintai-MU, juga cinta pada amal perbuatan yang akan menghantarkan aku untuk mencintai-MU.” ( Hadis riwayat Ahmad )

Sesungguhnya, tiada yang lebih indah selain beroleh pengiktirafan cinta dari-NYA :

“Jika Allah mencintai seorang hamba maka DIA berfirman: “Wahai Jibril sesungguhnya aku mencintai si fulan maka cintailah dia.” (Riwayat Imam Ahmad)

Mencari dan terus mencari cinta ILAHI.

Jumpa lagi, InsyaALLAH.

Sunday, March 6, 2011

CINTA CINTA ISLAMIK?

Bismillahirrahmanirrahim..Alahmdulillah, setelah sekian lama menyepi dari laman maya ku ini, akhirnya Allah mempermudahkan aku untuk menukil sesuatu biarpun artikel kali ini bukanlah hasil perahan idea dari fikrah ku..Selamat membaca!

Islam adalah agama yang syumul. Sebuah agama yang lengkap. Islam tidak mungkin menyekat fitrah manusia yang sememangnya ingin menyayangi dan ingin disayangi. Untuk apa Allah menciptakan manusia berfitrah seperti sedia ada jika manusia akan diperintahkan untuk membunuh fitrahnya itu?
Ajaran Islam telah diturunkan oleh Allah untuk memasang bingkai agar kemahuan manusia itu dapat disalurkan dengan cara yang terbaik. Selain itu, Islam menutup rapat jalan kemaksiatan dan membuka seluas-luasnya jalan menuju ketaatan serta memberi dorongan kuat ke arah perlaksanaanya.
Rasulullah s.a.w. pernah mengecam salah seorang sahabat yang bertekad untuk tidak bernikah. Ini merupakan salah satu bukti bahawa Islam mengakui fitrah manusia yang ingin mengasihi dan dikasihi atau mencintai dan dicintai.
Percintaan dalam Islam hanyalah selepas termetrainya sebuah ikatan pernikahan antara dua insan, iaitu setelah bergelar suami isteri. Islam telah menggariskan panduan dalam menuju ke arah gerbang perkahwinan ini.

Ustaz Hassan Din telah memberikan pendapatnya mengenai hal ini dalam Al-Kulliyah di TV3 pada 28 Julai 2006. Tajuk perbincangan Al-Kulliyah ketika itu agak menarik ; iaitu "Jodoh".

Masyarakat Sudah Lari
Apabila diminta memberikan pendapat beliau, beliau telah mengatakan bahawa cara masyarakat sekarang mengendalikan perihal jodoh telah lari daripada syariat yang sepatutnya.
"Sebenarnya dalam Islam, apabila seseorang lelaki itu telah berkenan dengan seorang wanita dan ingin menjadikan teman hidupnya, sepatutnya lelaki itu berjumpa dengan wali si perempuan tadi untuk menyatakan niatnya untuk masuk meminang.
Tetapi masyarakat sekarang silap. Mereka terus berjumpa dengan empunya diri dan terus menyatakan hasrat hatinya. Kemudian mereka bercinta, berjanji, bersumpah setia dan segala-galanya. Sedangkan ibubapa mereka langsung tidak tahu akan hubungan mereka itu. Setelah sekian lama bercinta, apabila ingin melangsungkan perkahwinan, mak dan ayah tidak bersetuju dengan mengeluarkan pelbagai alasan," terang beliau.

Konsep Meminang
Beliau juga menerangkan konsep peminangan ini. Kata beliau, "Ibu bapa mungkin sudah ada pilihan mereka sendiri. Oleh itu, dengan menyatakan niat kepada ibubapa, mereka akan berjumpa sendiri dengan wali perempuan tadi untuk mengenali keluarga dan calon menantu mereka dengan lebih jelas.
Setelah kedua-dua pihak bersetuju, barulah dijalankan upacara peminangan, iaitu kedua-dua insan tadi telah menjadi tunang. Apabila sudah menjadi tunangan orang, adalah haram perempaun itu dipinang oleh lelaki lain, seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis baginda.
Dalam masa pertunangan inilah kedua-dua pihak lelaki dan perempuan tadi akan saling mengenali antara satu-sama lain, bagi memastikan adakah ini merupakan pasangan hidupnya yang sebenar. Jika kedua-duanya sudah bersetuju, barulah pernikahan dilangsungkan," jelas beliau lagi.
Namun begitu, Ustaz Hassan Din menegaskan bahawa bertunang bukan merupakan lesen yang membenarkan kedua-dua pasangan bermesra-mesra seperti suami isteri. Bertunang hanyalah untuk saling mengenali antara satu sama lain dan bukannya untuk bercinta.
Pasangan yang telah bertunang tetap tidak boleh keluar berdua-duaan tanpa ditemani oleh ahli keluarga. Selagi belum bernikah, mereka tetap dua insan yang bukan mahram dan masih perlu manjaga batasan-batasan Islam seperti yang telah dibincangkan sebelum ini.
Dan jika dalam tempoh pertunangan itu didapati kedua-dua pasangan ini tidak secocok atau tidak serasi, maka pertunangan bolehlah diputuskan secara baik melalui persetujuan kedua-dua belah pihak.

Perigi Cari Timba
Ada pula yang berkata, "Cara ini untuk lelaki bolehlah. Untuk perempuan, tak sesuai. Nanti orang kata, 'macam perigi mencari timba', 'wanita tidak bermaruah' dan macam-macam lagi." Sabar dahulu saudari.
Sebenarnya ini merupakan pemikiran songsang yang telah diterapkan dalam masyarakat Melayu kita. Sebetulnya kita berbalik kepada Islam itu sendiri. Bagaimanakah Islam mengajar wanita yang berkeinginan bernikah untuk menyuarakan keinginanya? Mari kita kaji sirah.
Bukankah perkahwinan teragung antara junjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w. dan Siti Khadijah r.a. dimulakan dengan Siti Khadijah menzahirkan keinginannya? Ketika mengetahui sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad s.a.w., beliau merasakan yang dia tidak akan menjumpai sesiapa yang lebih layak untuk dijadikan suaminya melainkan Baginda. Oleh itu Siti Khadijah menyuarakan keinginannya kepada pakciknya, Abbas, agar merisik Muhammad s.a.w. Sesudah pihak Baginda bersetuju, barulah keluarga Nabi menghantar rombongan meminang. Begitulah yang diajarkan dalam sirah.
Jadi, tiada salahnya wanita yang memulakan dahulu. Bukankan itu lebih mulia, menyuarakan keinginan dan kebersediaan untuk mengikuti sunnah baginda Rasulullah s.a.w.?
Cuma biarlah caranya sesuai dengan cara masyarakat kita. Jika seorang wanita itu telah mempunyai calon suami yang baik dan soleh, suarakan-lah kepada ibu bapa supaya mereka dapat menghubungi pihak keluarga lelaki tersebut. Biar orang tua yang menguruskan, kita cuma mencadangkan. Kalau kedua-dua pihak setuju, alhamdulillah. Maka pihak lelaki boleh masuk meminang.

Indahnya Cara Islam
Lihat, betapa indahnya Islam mengaturkan perjalanan hidup penganutnya. Cukup teratur dan sitematik. Cara ini dapat mengelakkan daripada berlakunya maksiat dan perkara-perkara lain yang tidak diingini. Dalam masa yang sama, ia menuju kepada pembentukan keluarga bahagia yang diidamkan oleh semua manusia kerana itulah fitrah insani. Insya-Allah jika segalanya dilakukan dengan niat ikhlas kerana Allah dan bukan atas dasar nafsu dan keduniaan semata-mata, Allah akan mempermudah urusan itu.
- Artikel iluvislam.com
Sumber gambar: testi.iluvislam.com


SEMOGA BERMANFAAT..TIDAK BANYAK, SEKURANG KURANGNYA SEDIKIT..